TEORI INFORMASI DAN NONVERBAL
Dalam
“teori informasi” menurut B.Aubrey Fisher(1990), informasi diartikan sebagai
pengelompokan peristiwa-peristiwa dengan fungsi dan tujuan untuk menghilangkan
ketidakpastian. Informasi dapat disebut sebagai konsep yang absolut dan relatif
karena informasi diartikan “bukan pesan” melaikan “jumlah”, benda dan energi.
Informasi politik dalam “teori informasi” pada hakikatnya adalah komunikasi
politik yang bersifat nonverbal (tidak terucapkan).
Komunikasi
nonverbal menurut Mark L. Knapp(1972) adalah (1)repetisi, yaitu mengulang
kembali gagasan yang sudah disampaikansecara verbal, (2) subtitusi, yaitu
menggantikan lambang-lamban verbal, (3) kontradiksi, yaitu memberikan makna
yang lain terhadap pesan verbal.(4)komplemen, yaitu melengkapi atau
memperkaya pesan verbal.(5)aksentuasi.
Yaitu lebih menegaskan pesan verbal.
Informasi memiliki tiga
pengertian. Menurut (schramm, 1977:13) pertama, informasi dipahami sama dengan
pesan sebagaimana dianut dalam proses komunikasi mekanistis. Kedua, informasi
adalah data yang sudah diolah, sebagaimana yang dipahami dalam SIM(sistem
Informasi Manajemen). Ketiga informasi adalah segala sesuatu yang mempunyai
ketidakpastian atau mempunyai jumlah kemungkinan alternatif.
Menurut
“teori informasi” tidak satupun “tindakan politik” para politikus atau kader
partai yang bukan komunikasi politik, tapi juga dapat dipandang sebagai
komunikasi politik nonverbal. Namun harus dipahami betul bahwa tindakan atau
ucapan itu sesungguhnya boleh dianalisis sebagai sebuah pesan, melainkan adalah
sebuah kemungkinan atau alternatif.
Teori informasi
itu dapat diterapkan dalam komunikasi politik dalam banyak bentuk seperti (1)
memasang bendera, umbul-umbul, spanduk dan mendengarkan musik karena akan ada
upacara partai politiki.(2) memakai pakaian seragam karenan ada pertemuan
kader. (3) mempromosikan anggota partai yang berprestasi. Teori ini sangat beragam dalam menentukan pilihan penempatan
kader dalam menduduki jabatan-jabatan politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar