TEORI EMPATI DAN TEORI HOMOFILI
Secara sederhana, empati merupakan kemampuan menempatkan
diri pada situasi dan kondisi orang lain. Empati merupakan kemampuan seseorang
untuk memproyeksikan dirinya ke dalam peranan orang lain. Daniel Larner
(1978:34), mengartikam empati sebagai kesanggupan seseorang melihat diri
sendiri ke dalam situasi orang lain, dan kemudian melakukan penyesuaian. Dalam
hal ini, individu harus memiliki kepribadian mobil, yaitu kepribadian yang
mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi orang lain. Teori
empati merujuk pada sikap dan perasaan yang merasakan dan memahami
kondisi emosi orang lain. Empati memungkinkan individu untuk memahami maksud
orang lain, memprediksi perilaku mereka dan mengalami emosi yang dipicu oleh
emosi mereka (Baron-Cohen & Wheelwright, 2004).
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri
sendiri ke dalam empati orang lain memberikan peluang ke politikus untuk
berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri
sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu empati dapat
ditingkatkan dan dikembangkan oleh politikus melalui komunikasi sosial dan
komunikasi politik yang sering dilakukan. Dengan demikian empati dalam
komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra politikus tentang
diri dan tentang orang lain. Itu lah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau
dimantapkan melalui komunikasi antarpersonal.
Dalam usaha melakukan empati dalam peristiwa komunikasi
itu, Rogers dan Shoemaker (1978) memperkenalkan homofili. Konsep ini diartikan
sebagai kemampuan individu untuk menciptakan kebersamaan, baik fisik maupun non
mental. Dengan homofili dapat tercipta hubungan sosial dan komunikasi yang
intensif dan efektif. Istilah Homophily ini berasal dari perkataan Yunani
Homoios, yang mempunyai arti sama (alike) atau serupa (equal). Secara
etimologis homophily berarti afiliasi atau komnikasi dengan pribadi yang sama,
atau yang memiliki atribut tertentu yang sama atau serupa. Jadi homofili
berarti komunikasi dengan orang yang sama, yaitu derajat orang berkomunikasi
memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Heterophily adalah cermin kebalikan
Homophily. Konsep itu didefenisikan sebagai tingkat ketika pasangan individu
yang berkomunikasi berbeda atribut tertentu, seperti pendidikan, status sosial,
dan konteks sosial.
Homofili dalam komunikasi politik, dapat dilihat pada
para politikus atau kader partai di Indonesia yaitu kostum seragam jas mereka
miliki. Bahkan, sejumlah politikus yang memiliki agama yang sama, berkumpul
membentuk partai yang sama. Demikian juga mereka yang memiliki jenis kelamin
yang sama, membentuk koalisi untuk memperjuangkan kepentingan politik bagi
mereka.
Menurut Arifin (2003:557) kedua teori tersebut sangat
berguna dalam komunikasi antarpersonal, baik dalam komunikasi sosial, maupun
dalam komunikasi politik. Justru itu, teori empati maupun teori homofili paling
relevan ditempatkan pada paradigma kelompok besar atau perspektif interaksional
komunikasi politik. Dalam hal ini penonjolan nilai-nilai dan harkat manusia
diatas segala pengaruh yang lainnya sangat dominan karena manusia adalah
makhluk yang relatif sempurna.
Berarti empati dan homofili dapat menciptakan suasana
yang akrab dan intim sehingga komunikasi politik dapat berjalan secara
iinteraksional. Dalam hal ini interaksi yang berlangsung adalah interaksi
antara dua subjek (bukan antara subjek dan objek) yang selevel dan sederajat
(misalnya interaksi antara dua orang yang bersahabat, suami istri, atau dua
orang yang berpacaran). Dalam komuniasi politik yang bersifat dialogis, tidak
dikembangkan: aku atau kamu, melainkan yang menonjol adalah: kita (misalnya
sebangsa dan setanah air).
Selanjutnya empati dan homofili dalam komunikasi politik
diaplikasikan ke dalam bentuk idiologi politik yang sama, visi dan misi politik
yang sama, doktrin politik yang sama, simbol yang sama, pakaian yang sama, dan
keputusan politik bersama. Dengan adanya kebersamaan itu setiap kader partai
merasa dihargai dan diangkat harktanya sebagai manusia. Hal ini disebut juga
sebagai hubungan manusiawi (human relations).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar