YANG MAU TRANSLATE GANTI BAHASA LAIN BISA NIH
Selasa, 04 September 2018
TEORI LINGKAR KESUNYIAN (Spiral of Silence Theory)
Teori ini mendasarkan asumsinya pada pernyataan bahwa pendapat pribadi bergantung pada apa yang dipikirkan atau diharapkan orang lain, atau apa yang orang rasakan atau anggap sebagai pendapat dari orang lain. Orang pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi sosial, atau pengucilan atau keterasingan dalam komunitasnya dalam kaitannya mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Dalam hal ini terdapat 2 premis yang mendasarinya; pertama, bahwa orang tahu pendapat mana yang diterima dan pendapat mana yang tidak diterima. Manusia dianggap memiliki indera semi statistik (quasi-statistical sense) yang digunakan untuk menentukan opini dan cara perilaku mana yang disetujui atau tidak disetujui oleh lingkungan mereka, serta opini dan bentuk perilaku mana yang memperoleh atau kehilangan kekuatan (Saverin & Tankard, 2001). Kedua, adalah bahwa orang akan menyesuaikan pernyataan opini mereka dengan persepsi ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengekspresikan opini kita dengan berbagai cara, tak selalu harus membicarakannya, kita mengenakan pin atau bros, atau menempel stiker di belakang mobil kita. Kita berani melakukan itu karena kita yakin bahwa orang lain pun dapat menerima pendapat kita (Littlejohn, 1996).
Dalam menghadapi sebuah isu yang dianggap kontroversial, orang akan membentuk kesan tentang distribusi opini. Mereka mencoba menentukan apakah sikapnya terhadap isu tersebut termasuk kedalam kelompok mayoritas atau tidak, apakah opini publik sejalan dengan mereka atau tidak. Apabila menurut mereka opini publik ternyata tidak sejalan dengan mereka, atau mereka masuk kedalam kelompok (yang memiliki sikap) minoritas, maka mereka akan cenderung diam dalam menghadapi isu tersebut. Semakin mereka diam, semakin sudut pandang tertentu tidak terwakili, dan mereka semakin diam. Spiral kesunyian timbul karena adanya ketakutan akan pengucilan atau keterasingan. Neumann mengatakan “mengikuti arus memang relatif menyenangkan, tapi itupun bila mungkin, karena anda tidak bersedia menerima apa yang tampak sebagai pendapat yang diterima umum, paling tidak anda dapat berdiam diri, supaya orang lain dapat menerima anda” (Littlejohn, 1996).
TEORI MEDIA KRITIS
Teori media kritis menurut Hollander dikutip
(Arifin, 2003:61) adalah teori media yang menempatkan konteks kemasyarakatan
sebagai titik tolak dalam mempelajari fungsi media massa. Dalam hal ini dapat
diketahui fungsi media massa dipengaruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan dan
sejarah.
Kajian tentang peranan media massa dalam mempengaruhi masyarakat tidaklah begitu penting sehingga teori jarum suntik hipodermik atau teori peluru tidak berlaku. Bertolak dari aspek kemasyarakatan, pendukung teori media kritis seperti Ardono dan Horkheimer (dalam Arifin, 1997:52), memandang bahwa media massa merupakan produsen utama dari kebudayaan massa. Penganut teori komunikasi kritis memusatkan perhatian pada pengertian kontrol terhadap sistem komunikasi.
Teori permainan yang dikembangkan oleh Willian Stephenson menjelaskan bahwa mengikuti pesan melalui media hanyalah demi kesenangan. Teori kesenangan diturunkan dari gagasan kesenangan berkomunikasi, dan kegembiraan yang diperoleh orang dari mengobrol tanpa tujuan, atau kepuasan dalam menonton film.
Penggagas teori parasosial berpandangan bahwa media massa berfungsi dalam memenuhi kebutuhan manusia akan interaksi sosial. Hal ini tercapai apabila media massa member peluang hubungan parasosial yang akrab.
Akhirnya, Malvin L. DeFleur memperkenalkan beberapa teori dalam mengukur efek komunikasi massa terhadap masyarakat antara lain :
1. Teori perbedaan-perbedaan individu
2. Teori penggolongan sosial
3. Teori hubungan sosial
4. Teori norma-norma budaya
Kajian tentang peranan media massa dalam mempengaruhi masyarakat tidaklah begitu penting sehingga teori jarum suntik hipodermik atau teori peluru tidak berlaku. Bertolak dari aspek kemasyarakatan, pendukung teori media kritis seperti Ardono dan Horkheimer (dalam Arifin, 1997:52), memandang bahwa media massa merupakan produsen utama dari kebudayaan massa. Penganut teori komunikasi kritis memusatkan perhatian pada pengertian kontrol terhadap sistem komunikasi.
Teori permainan yang dikembangkan oleh Willian Stephenson menjelaskan bahwa mengikuti pesan melalui media hanyalah demi kesenangan. Teori kesenangan diturunkan dari gagasan kesenangan berkomunikasi, dan kegembiraan yang diperoleh orang dari mengobrol tanpa tujuan, atau kepuasan dalam menonton film.
Penggagas teori parasosial berpandangan bahwa media massa berfungsi dalam memenuhi kebutuhan manusia akan interaksi sosial. Hal ini tercapai apabila media massa member peluang hubungan parasosial yang akrab.
Akhirnya, Malvin L. DeFleur memperkenalkan beberapa teori dalam mengukur efek komunikasi massa terhadap masyarakat antara lain :
1. Teori perbedaan-perbedaan individu
2. Teori penggolongan sosial
3. Teori hubungan sosial
4. Teori norma-norma budaya
TEORI INFORMASI DAN NONVERBAL
Dalam “teori informasi” menurut B.Aubrey Fisher(1990), informasi diartikan sebagai pengelompokan peristiwa-peristiwa dengan fungsi dan tujuan untuk menghilangkan ketidakpastian. Informasi dapat disebut sebagai konsep yang absolut dan relatif karena informasi diartikan “bukan pesan” melaikan “jumlah”, benda dan energi. Informasi politik dalam “teori informasi” pada hakikatnya adalah komunikasi politik yang bersifat nonverbal (tidak terucapkan).
Komunikasi nonverbal menurut Mark L. Knapp(1972) adalah (1)repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikansecara verbal, (2) subtitusi, yaitu menggantikan lambang-lamban verbal, (3) kontradiksi, yaitu memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal.(4)komplemen, yaitu melengkapi atau memperkaya pesan verbal.(5)aksentuasi. Yaitu lebih menegaskan pesan verbal.
Informasi memiliki tiga pengertian. Menurut (schramm, 1977:13) pertama, informasi dipahami sama dengan pesan sebagaimana dianut dalam proses komunikasi mekanistis. Kedua, informasi adalah data yang sudah diolah, sebagaimana yang dipahami dalam SIM(sistem Informasi Manajemen). Ketiga informasi adalah segala sesuatu yang mempunyai ketidakpastian atau mempunyai jumlah kemungkinan alternatif.
Menurut “teori informasi” tidak satupun “tindakan politik” para politikus atau kader partai yang bukan komunikasi politik, tapi juga dapat dipandang sebagai komunikasi politik nonverbal. Namun harus dipahami betul bahwa tindakan atau ucapan itu sesungguhnya boleh dianalisis sebagai sebuah pesan, melainkan adalah sebuah kemungkinan atau alternatif.
Teori informasi itu dapat diterapkan dalam komunikasi politik dalam banyak bentuk seperti (1) memasang bendera, umbul-umbul, spanduk dan mendengarkan musik karena akan ada upacara partai politiki.(2) memakai pakaian seragam karenan ada pertemuan kader. (3) mempromosikan anggota partai yang berprestasi. Teori ini sangat beragam dalam menentukan pilihan penempatan kader dalam menduduki jabatan-jabatan politik.
TEORI EMPATI DAN TEORI HOMOFILI
Secara sederhana, empati merupakan kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Empati merupakan kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya ke dalam peranan orang lain. Daniel Larner (1978:34), mengartikam empati sebagai kesanggupan seseorang melihat diri sendiri ke dalam situasi orang lain, dan kemudian melakukan penyesuaian. Dalam hal ini, individu harus memiliki kepribadian mobil, yaitu kepribadian yang mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi orang lain. Teori empati merujuk pada sikap dan perasaan yang merasakan dan memahami kondisi emosi orang lain. Empati memungkinkan individu untuk memahami maksud orang lain, memprediksi perilaku mereka dan mengalami emosi yang dipicu oleh emosi mereka (Baron-Cohen & Wheelwright, 2004).
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri sendiri ke dalam empati orang lain memberikan peluang ke politikus untuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu empati dapat ditingkatkan dan dikembangkan oleh politikus melalui komunikasi sosial dan komunikasi politik yang sering dilakukan. Dengan demikian empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itu lah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersonal.
Dalam usaha melakukan empati dalam peristiwa komunikasi itu, Rogers dan Shoemaker (1978) memperkenalkan homofili. Konsep ini diartikan sebagai kemampuan individu untuk menciptakan kebersamaan, baik fisik maupun non mental. Dengan homofili dapat tercipta hubungan sosial dan komunikasi yang intensif dan efektif. Istilah Homophily ini berasal dari perkataan Yunani Homoios, yang mempunyai arti sama (alike) atau serupa (equal). Secara etimologis homophily berarti afiliasi atau komnikasi dengan pribadi yang sama, atau yang memiliki atribut tertentu yang sama atau serupa. Jadi homofili berarti komunikasi dengan orang yang sama, yaitu derajat orang berkomunikasi memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Heterophily adalah cermin kebalikan Homophily. Konsep itu didefenisikan sebagai tingkat ketika pasangan individu yang berkomunikasi berbeda atribut tertentu, seperti pendidikan, status sosial, dan konteks sosial.
Homofili dalam komunikasi politik, dapat dilihat pada para politikus atau kader partai di Indonesia yaitu kostum seragam jas mereka miliki. Bahkan, sejumlah politikus yang memiliki agama yang sama, berkumpul membentuk partai yang sama. Demikian juga mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama, membentuk koalisi untuk memperjuangkan kepentingan politik bagi mereka.
Menurut Arifin (2003:557) kedua teori tersebut sangat berguna dalam komunikasi antarpersonal, baik dalam komunikasi sosial, maupun dalam komunikasi politik. Justru itu, teori empati maupun teori homofili paling relevan ditempatkan pada paradigma kelompok besar atau perspektif interaksional komunikasi politik. Dalam hal ini penonjolan nilai-nilai dan harkat manusia diatas segala pengaruh yang lainnya sangat dominan karena manusia adalah makhluk yang relatif sempurna.
Berarti empati dan homofili dapat menciptakan suasana yang akrab dan intim sehingga komunikasi politik dapat berjalan secara iinteraksional. Dalam hal ini interaksi yang berlangsung adalah interaksi antara dua subjek (bukan antara subjek dan objek) yang selevel dan sederajat (misalnya interaksi antara dua orang yang bersahabat, suami istri, atau dua orang yang berpacaran). Dalam komuniasi politik yang bersifat dialogis, tidak dikembangkan: aku atau kamu, melainkan yang menonjol adalah: kita (misalnya sebangsa dan setanah air).
Selanjutnya empati dan homofili dalam komunikasi politik diaplikasikan ke dalam bentuk idiologi politik yang sama, visi dan misi politik yang sama, doktrin politik yang sama, simbol yang sama, pakaian yang sama, dan keputusan politik bersama. Dengan adanya kebersamaan itu setiap kader partai merasa dihargai dan diangkat harktanya sebagai manusia. Hal ini disebut juga sebagai hubungan manusiawi (human relations).
Senin, 03 September 2018
TEORI KEGUNAAN DAN KEPUASAN
Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory)
Teori penggunaan dan kepuasaan atau
uses and gratifications theory disebut sebagai salah satu teori yang
paling populer dalam studi komunikasi massa. Teori ini mengajukan
gagasan bahwa perbedaan individu menyebabkan audien mencari, menggunakan
dan memberikan tanggapan terhadap isi media secara berbeda-beda, yang
disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan psikologis yang berbeda
diantara individu audien. Teori ini memfokuskan perhatian pada audien
sebagai konsumen media massa dan bukan pada pesan yang disampaikan.
Teori ini menilai bahwa audien dalam menggunakan media berorientasi pada
tujuan, bersifat aktif sekaligus diskriminatif. Audien dinilai
mengetahui kebutuhan mereka dan mengetahui serta bertanggung jawab
terhadap pilihan media.
Cikal bakal teori penggunaan dan kepuasan dimulai pada
tahun 1940-an. Ketika sejumlah peneliti mencoba mencari tahu motif yang
melatarbelakangi audien mendengarkan radio dan membaca surat kabar.
Mereka meneliti siaran radio dan mencari tahu mengapa orang tertarik
terhadap program yang disiarkan, seperti kuis dan serial drama radio.
Mencari tahu kepuasan apa yang diperoleh atau apa motif orang membaca
surat kabar.
Menurut Herta Herzog (1944) dipandang
sebagai orang pertama yang mengawali riset penggunaan dan kepuasan ini.
Ia mengelompokkan berbagai alasan mengapa orang memilih mengonsumsi
surat kabar daripada radio dan mempelajari peran keinginan dan kebutuhan
audien terhadap pilihan media. Ia menemukan adanya tiga jenis atau tipe
pemuasan, yaitu:
1. Sebagian orang menyukai sinetron
karena berfungsi sebagai sarana pelepasan emosi dengan cara melihat dan
mendengar masalah orang lain melalui TV.
2. Audien dapat berangan-angan (wishful thinking) terhadap sesuatu yang tidak mungkin mereka raih, mereka sudah cukup memperoleh kepuasan hanya dengan melihat pengalaman orang lain di layar kaca;
3. Sebagian orang merasa mereka dapat belajar dari program sinetron karena jika seseorang menonton program tersebut dan sesuatu terjadi dalam hidupnya, maka ia sudah tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan ‘pelajaran’ yang diperoleh dari sinetron yang bersangkutan.
2. Audien dapat berangan-angan (wishful thinking) terhadap sesuatu yang tidak mungkin mereka raih, mereka sudah cukup memperoleh kepuasan hanya dengan melihat pengalaman orang lain di layar kaca;
3. Sebagian orang merasa mereka dapat belajar dari program sinetron karena jika seseorang menonton program tersebut dan sesuatu terjadi dalam hidupnya, maka ia sudah tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan ‘pelajaran’ yang diperoleh dari sinetron yang bersangkutan.
Untuk memahami mengapa individu
menggunakan media, kita dapat menggunakan yang dikemukakan Harold D
Lasswell (1948). Ia mengemukakan tiga fungsi utama media terhadap
masyarakat.
1. Media berfungsi untuk memberitahu audien mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka (surveying the environment).
2. Melalui pandangan yang diberikan media terhadap berbagai hal yang terjadi, maka audien dapat memahami lingkungan sekitarnya secara lebih akurat (correlation of environmental parts).
3. Pesan media berfungsi menyampaikan tradisi dan nilai-nilai sosial kepada generasi audien selanjutnya (transmit social norms and customs).
1. Media berfungsi untuk memberitahu audien mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka (surveying the environment).
2. Melalui pandangan yang diberikan media terhadap berbagai hal yang terjadi, maka audien dapat memahami lingkungan sekitarnya secara lebih akurat (correlation of environmental parts).
3. Pesan media berfungsi menyampaikan tradisi dan nilai-nilai sosial kepada generasi audien selanjutnya (transmit social norms and customs).
TEORI KHALAYAK KEPALA BATU
Teori khalayak kepala batu
kritik terhadap teori peluru dan tidak percaya
bahwa khalayak pasif dan dungu tak mampu melawan keperkasaan media. Khalayak itu
sendiri atas individu –individu yang selalu berinterelasi dan berinteraksi
dengan individu-individu lainnya, dalam suatu wadah atau tempat yang disebut
dengan publik. Gugurnya teori khalayak terdiri dari teori khalayak aktif dan
teori khalayak pasif, gugurnya teori
khalayak pasif dan asumsi media perkasa, munculah asumsi bahwa khalayak aktif
dan sangat berdaya dalam setiap proses komunikasi politik. Bahkan khalayak
memiliki daya tangkap dan daya serap terhdap semua rangsangan yang
menyentuhnya. Dalam hal ini akan dijelaskan khalayak aktif dan khalayak pasif.
Khalayak aktif versus khalayak pasif
Dalam pandangan teori komunikasi massa khalayak
pasif dipengaruhi oleh arus langsung dari media, sedangkan pandangan khalayak
aktif menyatakan bahwa khalayak memiliki keputusan aktif tentang bagaimana
mengunakan media massa. Selama ini yang terjadi dalam studi komunikasi massa,
teori masyarakat massa lebih memiliki kecenderungan untuk menggunakan konsep
teri khalayak pasif. Meskipun tidak semua konsep teori khalayak pasif dapat
dikatakan sebagai teori masyarakat massa. Demikian juga sebagian besar teori
komunitas yang berkembang dalam studi komunikasi masaa lebih cenderung
mengunakan konsep teori aktif.
Kita bisa melihat tipologi khalayak pasifdan
khalayak aktif ini dari konsumsi media cetak masyarakat disekitar kita. Media cetak
kriminal, seperti pos kota dan lampu merah di jakarta,meteor di jawa tengah,
koran merapi di yogyakarta dan memorandum dijawa timur sangat populer di
kalangan menengah ke bawah. Berbagai harian ini dapat dengan mudah dijumpai di
lapak-lapak koran yang bersebaran dipingir jalan dengan konsumen yang
didominasi kalangan menengah ke bawah. Mereka mengkonsumsi media massa dengan tujuan
tertentu secara selektif tidak secara menyeluruh. Misalnya mereka yang aktif
dalam kegiatan perekonomian tentu akan memilih tentang bisnis indonesia
dibanding media yang lain yang memuat tentang kriminal atau bencana, alasan
mereka memilih media yang mereka konsumsi karena kehidupan sehari- harinya
mereka melakukan kegiatan ekonomi seperti berdagang atau memilih usaha yang
lainnya yang berhubungan langsung dengan kehidupanya. Masyarakat mempunyai hak
untuk memili media komunikasi yang mereka perlukan,karena kemampuan untuk
menyeleksi informasi terdapat pada khalayak menurut perbedaan individu atau
kebutuhanya. Perbedaan individu bisa membedakan dilihat dari karakternya
masing-masing kalau yang membutuhkan media massa anak-anak jelas yang dicari
adalah media massa yang memuat kartun-kartun atau animasi yang mereka sukai. Dan
kebanyakan anak-anak perempuan pasti memilih komunikasi massa yang memuat
tentang berita selebritis sedangkan anak laki-laki cenderung memilih komunikasi
yang memuat berita tentang sepak bola. Disini dapat dibedakan sosial budaya
dilihat dari:
1)
Pendidikan
2)
Ekonomi
3)
Etnis
4)
Agama
5)
Dan kedudukan dalam masyarakat
Khalayak yang selektif pasti memilih
dengan kebutuhanya masing-masing.
TEORI PELURU DAN JARUM HIPODERMIK
Teori Peluru atau Jarum Hipodermik
-
Sejarah
Teori Peluru ini merupakan konsep awal
efek komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan
pula Hypodermic Needle Theory (Teori
Jarum Hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa
penyiaran kaleidoskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars (Effendy.1993:264-265).
IStilah model hypodermic neadle timbul pada periode ketika komunikasi
massa digunakan secara meluas, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yaitu
sekitar1930-an dan mencapai puncaknya menjelang Perang Dunia II. Pada periode
ini kehadiran media massa baik media cetak maupun media elektronik mendatangkan
perubahan-perubahan besar di berbagai masyarakat yang terjangkau oleh allpowerfull media massa. Penggunaan media massa secara luas untuk
keperluan komunikasi melahirkan gejala-gejala mass society. Individu-individu tampak seperti distandarisasikan,
diotomatisasikan dan kurang keterikatannya di dalam hubungannya antarpribadi (interpersonal relations). Terpaan media
massa (mass media exposure) tampak di
dalam kecenderungan adanya homogenitas cara-cara berpakaian, pola-pola
pembicaraan, nilai-nilai baru yang timbul sebagai akibat terpaan media massa,
serta timbulnya produksi masa yang cenderung menunjukan suatu kebudayaan masa.
Pengaruh media sebagai hypodermic injection (jarum suntik)
didukung oleh munculnya kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
Media massa
memanipulasi kekuatan besar. Bukti-bukti
mengenai manipulasi kekuatan besar dari media massa ditunjukkan oleh peristiwa
bersejarah sebagai berikut :
a)
Peranan
surat-surat kabar Amerika yang berhasil menciptakan pendapat umum positif
ketika perang dengan Spanyol pada 1898. Surat-surat kabar itu mampu membuat
penduduk Amerika membedakan siapa kawan dan siapa lawan.
b)
Berhasilnya
propaganda Goebbels dalam periode Perang Dunia II.
c)
Pengaruh
Madison Avenue atas perilaku konsumen dan dalam pemungutan suara.
-
Pengertian
Istilah model jarum hipodermik dalam
komunikasi massa diartikan sebagai media massa yang dapat menimbulkan efek yang
kuat, langsung, terarah,dan segera. Efek yang segera dan langsung itu sejalan dengan pengertian
Stimulus-Respon yang mulai dikenal sejak penelitian dalam psikologi tahun
1930-an.
Model jarum suntik pada dasarnya
adalah aliran satu tahap (one step flow), yaitu media massa langsung
kepada khalayak sebagai mass audiance.
Model ini mengasumsikan media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat
kuat atas mass audiance. Media massa
ini sepadan dengan teori Stimulus-Response
(S-R) yang mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi antara
tahun 1930 dan 1940. Teori S-R mengajarkan, setiap stimulus akan menghasilkan
respons secara spontan dan otomatis seperti gerak refleks. Seperti bila tangan
kita terkena percikan api (S) maka secara spontan, otomatis dan reflektif kita
akan menyentakkan tangan kita (R) sebagai tanggapan yang berupa gerakkan
menghindar. Tanggapan di dalam contoh tersebut sangat mekanistis dan otomatis,
tanpa menunggu perintah dari otak.
Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).
TEORI-TEORI KOMUNIKASI POLITIK
Teori-Teori dalam Komunikasi Politik
1. Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory)
Teori jarum suntik berpendapat bahwa khalayak sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah ditembakkan melalui media komunikasi. Khalayak terlena seperti kemasukan obat bius melalui jarum suntik sehingga tidak bisa memiliki alternative untuk menentukan pilihan lain, kecuali apa yang disiarkan oleh media. Teori ini juga dikenal dengan sebutan teori peluru (bullet theory).[1]
Berdasarkan teori tersebut, komunikator politik (politisi, professional, dan aktivis) selalu memandang bahwa pesan politik apa pun yang disampaikan kepada khalayak, apalagi kalau melalui media massa, pasti menimbulkan efek yang positif berupa citra yang baik, penerimaan atau dukungan. Ternyata asumsi tersebut tidak benar seluruhnya, karena efek sangat tergantung pada situasi dan kondisi khalayak, di samping daya tarik isi, dan kredibilitas komunikator. Bahkan berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa media massa memiliki pengaruh lebih dominan dalam tngkat kognitif (pengetahuan) saja, tetapi kurang mampu menembus pengaruh pada sikap dan perilaku. Ditemukan bahwa sesungguhnya khalayak itu tidak pasif dalam menerima pesan.
Dengan demikian, asumsi bahwa khalayak tak berdaya dan media perkasa, tidak terbukti secara empiric. Meskipun demikian, teori jarum hipodermik atau teori peluru tidak runtuh sama sekali karena tetap diaplikasikan atau digunakan untuk menciptakan efeksivitas dalam komunikasi politik. Hal ini tergantung kepada system politik, system organisasi dan situasi, terutama yang dapat diterapkan dalam system politik yang otoriter, dengan bentuk kegiatan seperti indoktrinasi, perintah, instruksi, penugasan, dan pengarahan. Itulah sebabnya teori ini tetap relevan dan mampu menciptakan komunikasi yang efektif. Teori ini juga lebih memusatkan perhatian kepada efek afektif dan behavioral.[2]
2. Teori Kepala Batu (Obstinate Audience)
Teori ini dilandasi pemahaman psikologi bahwa dalam diri individu, ada kemampuan untuk menyelek siapa saja yang berasal dari luar dan tidak direspons begitu saja. Teori kepala batu menolak teori jarum suntik atau teori peluru dengan alas an jika suatu informasi ditembakkan dari media, mengapa khalayak tidak berusaha berlindung untuk menghindari tembakan informasi itu. Masyarakat atau khalayak memiliki hak untuk memilih informasi yang mereka perlukan dan informasi yang mereka tidak perlukan. Kemampuan untuk menyeleksi informasi terdapat pada khalayak menurut perbedaan individu, persepsi, dan latar belakang social budaya.[3]
Raymond Bauer mengeritik potret khalayak sebagai robot yang pasif. Khalayak hanya bersedia mengikuti pesan bila pesan itu memberi keuntungan atau memenuhi kepentingan dan kebuuthan khalayak. Komunikasi tidak lagi bersifat linear tetapi merupakan transaksi. Media massa memang berpengaruh, tetapi pengaruh itu disaring, diseleksi, dan diterima atau ditolak oleh filter konseptual atau factor-faktor personal yang mempenagruhi reaksi mereka.
Dengan teori khalayak kepala batu itu, focus penelitian bergeser dari komunikator kepada komunikan atau khalayak. Para pakar, terutama pakar psikologi maupun sosiologi mencurahkan perhatian kepada factor individu. Mereka mengkaji faktor-faktor yang membuat individu itu mau menerima pesan-pesan komunikasi. Salah satu di antaranya adalah lahirnya teori atau model uses and gratifications (guna dan kepuasaan).[4]
3. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1974 lewat bukunya The Uses of Mass Communication Current Perspective on Gratification research. Teori ini banyak berkaitan dengan sikap dan perilaku para konsumen, bagaimana mereka menggunakan media untuk mencari informasi tentang apa yang mereka butuhkan. Dalam praktik politik teori ini banyak digunakan oleh para politisi.[5]
4. Teori Empati dan Teori Homofili
Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal ini K. berlo (1960) memperkenalkan teori yang dikenal dengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan diri kedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimana kalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadi khayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan dan mengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yang kemudian menjadi dasar dalam mmelakukan penyesuaian.
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri sendiri kedalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang kepada seorang politikus utnuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu, empati dapat dtingkatkan atau dikembangkan oleh seorang politikus melalui komunikasi social dan komunikasi politik yang sering dilakukan.
Dengan demikian, empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra seseorang politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itulah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersona.[6]
5. Teori Lingkar Kesunyian (Spiral of Silence Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Elizabeth Noelle Neumann, mantan jurnalis kemudian menjadi professor emeritus pada salah satu institute publistik di jerman. Teorinya banyak berkaitan dengan kekuatan media yang bisa membuat opini publik, tetapi di balik itu ada opini yang bersifat laten berkembang di tingkat bawah yang tersembunyi karena tidak sejalan dengan opini publik mayoritas yang bersifat manifes (nyanin pubta di permukaan). Opini publik yang tersembunyi disebut opini yang berada dalam lingkar keheningan (the spiral of silence). [7]
6. Teori Penanaman (Cultivation Theory)
Teori ini memberi kontribusi studi komunikasi dengan sebutan teori penanaman atau teori kultivasi (Cultivation Story). Teori ini menggambarkan kehebatan televisi dalam menanamkan sesuatu ke dalam jiwa penonton, kemudian terimplementasi ke dalam sikap dan perilaku mereka. Misalnya, kebiasaan televisi menyiarkan berita atau film tentang kejahatan memberi pengaruh (tertanam) pada sikap dan perilaku untuk tidak mau keluar pada malam hari tanpa ditemani orang lain. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Inggris, stasiun-stasiun televisi tidak terbiasa menayangkan berita-berita kejahatn dan kekerasan sehingga masyarakat di sana tidak perlu takut keluar malam.
Di bidang politik, teori ini memiliki pengaruh yang besar bagi para penonton dengan menggambarkan (tertanam) dalam jiwa, sikap, dan perilaku mereka, bahwa partai yang banyak tampil di televisi diasosiakan sebagai partai besar dan berpengaruh, sekalipun dalam kampanye, kameramen televisi merakayasa dengan hanya meliput tempat-tempat kerumunan massa. Dari faktor penanaman media terhadap jiwa para pemirsa memberi pengaruh yang besar terhadap pemilih.
Selain teori ini berhasil dalam menanamkan pengaruh pada jiwa pemirsa, teori kultivasi banyak mendapat kritik terutama dalam liputan yang bersifat palsu (pseudo events).[8]
7. Teori Media Kritis
Teori ini berkembang di Eropa dan khusunya di Jerman. Teori media kritis menurut Hollander (1981) adalh merupakan teori media yang menempatkan konteks kemasyarakatan sebagai titik tolak dalam mempelajari fungsi media massa. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa media massa dalam berfungsi banyak dipenagruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah.
Dengan demikian, permasalahn yang sentral dalam teori media kritis adalh bukan saja bagaimana media berfungsi, tetapi justru fungsi-fungsi apa yang seharusnya dilakukan oleh media dalam masyarakat. Dengan kata lain bahwa kajian tentang peranan media massa dalam mempengaruhi masyarakat tidaklah begitu penting sehingga teori jarum suntik hipodermik atau teori peluru tidak berlaku. Para penganut teroi komunikasi kritis sama sekali tidak lagi memberikan tekanan efek komunikasi massa terhadap khalayak, melainkan memusatkan perhatian pada pengertian kontrol terhadap sistem komunikasi.
Teori media kriits bertolak belakang dengan teori media massa lain, seperti teori perseptual dan teroi fungsional, yang justru kedua teroi itu memberi tekanan kepada akibat apa yang dilakukan oleh media terhadap orang. Namun, teori fungsional kemudian mengalami sedikit pergeseran, yaitu memusatkan kajiannya kajiannya kepada pertanyaan tentang apa yang diperoleh khalayak dari media massa, dan mengapa hal itu dapat diperoleh.[9]
8. Teori Informasi dan Nonverbal
Sejumlah pakar ilmu komunikasi telah mengembangkan teroi informasi yang banyak diguankan dalam kegiatan komunikasi politik. Teroi informasi (dan teroi sistem sosial) telah digunakan oleh B. Aubrey Fisher dalam menggagas dan menjelaskan paradigma pragmatis, yang intinya adalah bertindak sama dengan berkomunikasi, artinya smeua tindakan politik dapat dipandang sebagi komunikasi politik yang bersifat non verbal. Sering juga dikatakn bahwa tidak ada komunikasi (verbal), tetapi ada komunikasi (nonverbal).
Dalam teori informasi menurut B. Abrey Fisher informasi diartikan sebagai pengelompokkan peristiwa-peristiwa dengan fungsi untuk menghilangkan ketidakpastian. Informasi dapat disebut sebagai konsep yang absolut dan relatif karen informasi diartikan bukan sebagai pesan, melainkan jumlah, benda dan energi. Jika dikaitkan dengan teori relativitas, bertindak pun merupakan sebuah informasi dalam arti sebuah kemungkinan alternatif yang dapat diprediksi berdasarkan pola (peristiwa dari waktu ke waktu).
Informasi dalm komunikasi politik dapat berarti sikap politik, dan pendapat politik, media politik, kostum partai politik, dan temu kader partai politik. Menurut teori informasi, komunikasi politik adalh semua hal harus dianalisis sebagai tindakan politik (bukan pesan) yang mengandung sebuah kemungkinan alternatif. Jadi, bertindak (melakukan tindakan politik) sama dengan berkomunikasi (melakukan komunikasi politik).
Sesungguhnya komunikasi nonverbal adalah merupakan tindakan dalm peristiwa komunikasi politik yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda oleh khalayak. Justru itu tindakan itu harus diamati dari waktu ke waktu sehingga dapat ditemukan polanya. Jika pesan nonverbal itu berlangsung berulang-ulang, terbentuklah pola tindakan. Pola itu kemudian menjadi pedoman untuk melakukan prediksi pada masa depan. Artinya prediksi dilakuakan berdasarkan pola. Jika suatu saat terjadi tindakan di luar pola, maka terjadilah kejutan.[10]
Kesimpulan
Media massa merupakan bagian besar daripada komunikasi politik. Karena media massa dapat mempengaruhi pemikiran-pemikiran khalayak terhadap apa yang dapat ia sampaikan. Meskipun media massa memang benar-benar dapat mempengaruhi pemikiran khalayak, namun ada sebuah teori yang mengatakan bahwa khalayak itu bersifat pasif atau hanya mengikuti apa yang sudah ada. Namun akhirnya teori tersebut dipatahkan dengan teori-teori yang lain yang dihasilkan melalui penelitian terhadap tindakan masyarakat. Oleh karena itu teori dalam komunikasi politik mengalami perkembangan sesuai dengan penelitian dan penemuan para ahli terhadap tingkah laku khalayak.
Referensi
Cangara,Hafied.2009. KomunikasiPolitik: Konsep, teori, danStrategi. Jakarta: RajaGrafindoPersada.
Arifin,Anwar. 2003.KomunikasiPolitik. Jakarta: BalaiPustaka
[1]HafiedCangara, KomunikasiPolitik: Konsep, teori, danStrategi, (Jakarta: RajaGrafindoPersada, 2009), Hal: 119-120
[2]Anwar Arifin, KomunikasiPolitik, (Jakarta: BalaiPustaka, 2003), Hal: 43-45.
[3]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 120.
[4]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 46.
[5]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 121.
[6]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 54.
[7]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 122.
[8]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 122-124.
[9]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 61-63.
[10]Anwar Arifin, Ibid.,Hal: 57-59.
1. Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory)
Teori jarum suntik berpendapat bahwa khalayak sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah ditembakkan melalui media komunikasi. Khalayak terlena seperti kemasukan obat bius melalui jarum suntik sehingga tidak bisa memiliki alternative untuk menentukan pilihan lain, kecuali apa yang disiarkan oleh media. Teori ini juga dikenal dengan sebutan teori peluru (bullet theory).[1]
Berdasarkan teori tersebut, komunikator politik (politisi, professional, dan aktivis) selalu memandang bahwa pesan politik apa pun yang disampaikan kepada khalayak, apalagi kalau melalui media massa, pasti menimbulkan efek yang positif berupa citra yang baik, penerimaan atau dukungan. Ternyata asumsi tersebut tidak benar seluruhnya, karena efek sangat tergantung pada situasi dan kondisi khalayak, di samping daya tarik isi, dan kredibilitas komunikator. Bahkan berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa media massa memiliki pengaruh lebih dominan dalam tngkat kognitif (pengetahuan) saja, tetapi kurang mampu menembus pengaruh pada sikap dan perilaku. Ditemukan bahwa sesungguhnya khalayak itu tidak pasif dalam menerima pesan.
Dengan demikian, asumsi bahwa khalayak tak berdaya dan media perkasa, tidak terbukti secara empiric. Meskipun demikian, teori jarum hipodermik atau teori peluru tidak runtuh sama sekali karena tetap diaplikasikan atau digunakan untuk menciptakan efeksivitas dalam komunikasi politik. Hal ini tergantung kepada system politik, system organisasi dan situasi, terutama yang dapat diterapkan dalam system politik yang otoriter, dengan bentuk kegiatan seperti indoktrinasi, perintah, instruksi, penugasan, dan pengarahan. Itulah sebabnya teori ini tetap relevan dan mampu menciptakan komunikasi yang efektif. Teori ini juga lebih memusatkan perhatian kepada efek afektif dan behavioral.[2]
2. Teori Kepala Batu (Obstinate Audience)
Teori ini dilandasi pemahaman psikologi bahwa dalam diri individu, ada kemampuan untuk menyelek siapa saja yang berasal dari luar dan tidak direspons begitu saja. Teori kepala batu menolak teori jarum suntik atau teori peluru dengan alas an jika suatu informasi ditembakkan dari media, mengapa khalayak tidak berusaha berlindung untuk menghindari tembakan informasi itu. Masyarakat atau khalayak memiliki hak untuk memilih informasi yang mereka perlukan dan informasi yang mereka tidak perlukan. Kemampuan untuk menyeleksi informasi terdapat pada khalayak menurut perbedaan individu, persepsi, dan latar belakang social budaya.[3]
Raymond Bauer mengeritik potret khalayak sebagai robot yang pasif. Khalayak hanya bersedia mengikuti pesan bila pesan itu memberi keuntungan atau memenuhi kepentingan dan kebuuthan khalayak. Komunikasi tidak lagi bersifat linear tetapi merupakan transaksi. Media massa memang berpengaruh, tetapi pengaruh itu disaring, diseleksi, dan diterima atau ditolak oleh filter konseptual atau factor-faktor personal yang mempenagruhi reaksi mereka.
Dengan teori khalayak kepala batu itu, focus penelitian bergeser dari komunikator kepada komunikan atau khalayak. Para pakar, terutama pakar psikologi maupun sosiologi mencurahkan perhatian kepada factor individu. Mereka mengkaji faktor-faktor yang membuat individu itu mau menerima pesan-pesan komunikasi. Salah satu di antaranya adalah lahirnya teori atau model uses and gratifications (guna dan kepuasaan).[4]
3. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1974 lewat bukunya The Uses of Mass Communication Current Perspective on Gratification research. Teori ini banyak berkaitan dengan sikap dan perilaku para konsumen, bagaimana mereka menggunakan media untuk mencari informasi tentang apa yang mereka butuhkan. Dalam praktik politik teori ini banyak digunakan oleh para politisi.[5]
4. Teori Empati dan Teori Homofili
Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal ini K. berlo (1960) memperkenalkan teori yang dikenal dengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan diri kedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimana kalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadi khayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan dan mengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yang kemudian menjadi dasar dalam mmelakukan penyesuaian.
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri sendiri kedalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang kepada seorang politikus utnuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu, empati dapat dtingkatkan atau dikembangkan oleh seorang politikus melalui komunikasi social dan komunikasi politik yang sering dilakukan.
Dengan demikian, empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra seseorang politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itulah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersona.[6]
5. Teori Lingkar Kesunyian (Spiral of Silence Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Elizabeth Noelle Neumann, mantan jurnalis kemudian menjadi professor emeritus pada salah satu institute publistik di jerman. Teorinya banyak berkaitan dengan kekuatan media yang bisa membuat opini publik, tetapi di balik itu ada opini yang bersifat laten berkembang di tingkat bawah yang tersembunyi karena tidak sejalan dengan opini publik mayoritas yang bersifat manifes (nyanin pubta di permukaan). Opini publik yang tersembunyi disebut opini yang berada dalam lingkar keheningan (the spiral of silence). [7]
6. Teori Penanaman (Cultivation Theory)
Teori ini memberi kontribusi studi komunikasi dengan sebutan teori penanaman atau teori kultivasi (Cultivation Story). Teori ini menggambarkan kehebatan televisi dalam menanamkan sesuatu ke dalam jiwa penonton, kemudian terimplementasi ke dalam sikap dan perilaku mereka. Misalnya, kebiasaan televisi menyiarkan berita atau film tentang kejahatan memberi pengaruh (tertanam) pada sikap dan perilaku untuk tidak mau keluar pada malam hari tanpa ditemani orang lain. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Inggris, stasiun-stasiun televisi tidak terbiasa menayangkan berita-berita kejahatn dan kekerasan sehingga masyarakat di sana tidak perlu takut keluar malam.
Di bidang politik, teori ini memiliki pengaruh yang besar bagi para penonton dengan menggambarkan (tertanam) dalam jiwa, sikap, dan perilaku mereka, bahwa partai yang banyak tampil di televisi diasosiakan sebagai partai besar dan berpengaruh, sekalipun dalam kampanye, kameramen televisi merakayasa dengan hanya meliput tempat-tempat kerumunan massa. Dari faktor penanaman media terhadap jiwa para pemirsa memberi pengaruh yang besar terhadap pemilih.
Selain teori ini berhasil dalam menanamkan pengaruh pada jiwa pemirsa, teori kultivasi banyak mendapat kritik terutama dalam liputan yang bersifat palsu (pseudo events).[8]
7. Teori Media Kritis
Teori ini berkembang di Eropa dan khusunya di Jerman. Teori media kritis menurut Hollander (1981) adalh merupakan teori media yang menempatkan konteks kemasyarakatan sebagai titik tolak dalam mempelajari fungsi media massa. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa media massa dalam berfungsi banyak dipenagruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah.
Dengan demikian, permasalahn yang sentral dalam teori media kritis adalh bukan saja bagaimana media berfungsi, tetapi justru fungsi-fungsi apa yang seharusnya dilakukan oleh media dalam masyarakat. Dengan kata lain bahwa kajian tentang peranan media massa dalam mempengaruhi masyarakat tidaklah begitu penting sehingga teori jarum suntik hipodermik atau teori peluru tidak berlaku. Para penganut teroi komunikasi kritis sama sekali tidak lagi memberikan tekanan efek komunikasi massa terhadap khalayak, melainkan memusatkan perhatian pada pengertian kontrol terhadap sistem komunikasi.
Teori media kriits bertolak belakang dengan teori media massa lain, seperti teori perseptual dan teroi fungsional, yang justru kedua teroi itu memberi tekanan kepada akibat apa yang dilakukan oleh media terhadap orang. Namun, teori fungsional kemudian mengalami sedikit pergeseran, yaitu memusatkan kajiannya kajiannya kepada pertanyaan tentang apa yang diperoleh khalayak dari media massa, dan mengapa hal itu dapat diperoleh.[9]
8. Teori Informasi dan Nonverbal
Sejumlah pakar ilmu komunikasi telah mengembangkan teroi informasi yang banyak diguankan dalam kegiatan komunikasi politik. Teroi informasi (dan teroi sistem sosial) telah digunakan oleh B. Aubrey Fisher dalam menggagas dan menjelaskan paradigma pragmatis, yang intinya adalah bertindak sama dengan berkomunikasi, artinya smeua tindakan politik dapat dipandang sebagi komunikasi politik yang bersifat non verbal. Sering juga dikatakn bahwa tidak ada komunikasi (verbal), tetapi ada komunikasi (nonverbal).
Dalam teori informasi menurut B. Abrey Fisher informasi diartikan sebagai pengelompokkan peristiwa-peristiwa dengan fungsi untuk menghilangkan ketidakpastian. Informasi dapat disebut sebagai konsep yang absolut dan relatif karen informasi diartikan bukan sebagai pesan, melainkan jumlah, benda dan energi. Jika dikaitkan dengan teori relativitas, bertindak pun merupakan sebuah informasi dalam arti sebuah kemungkinan alternatif yang dapat diprediksi berdasarkan pola (peristiwa dari waktu ke waktu).
Informasi dalm komunikasi politik dapat berarti sikap politik, dan pendapat politik, media politik, kostum partai politik, dan temu kader partai politik. Menurut teori informasi, komunikasi politik adalh semua hal harus dianalisis sebagai tindakan politik (bukan pesan) yang mengandung sebuah kemungkinan alternatif. Jadi, bertindak (melakukan tindakan politik) sama dengan berkomunikasi (melakukan komunikasi politik).
Sesungguhnya komunikasi nonverbal adalah merupakan tindakan dalm peristiwa komunikasi politik yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda oleh khalayak. Justru itu tindakan itu harus diamati dari waktu ke waktu sehingga dapat ditemukan polanya. Jika pesan nonverbal itu berlangsung berulang-ulang, terbentuklah pola tindakan. Pola itu kemudian menjadi pedoman untuk melakukan prediksi pada masa depan. Artinya prediksi dilakuakan berdasarkan pola. Jika suatu saat terjadi tindakan di luar pola, maka terjadilah kejutan.[10]
Kesimpulan
Media massa merupakan bagian besar daripada komunikasi politik. Karena media massa dapat mempengaruhi pemikiran-pemikiran khalayak terhadap apa yang dapat ia sampaikan. Meskipun media massa memang benar-benar dapat mempengaruhi pemikiran khalayak, namun ada sebuah teori yang mengatakan bahwa khalayak itu bersifat pasif atau hanya mengikuti apa yang sudah ada. Namun akhirnya teori tersebut dipatahkan dengan teori-teori yang lain yang dihasilkan melalui penelitian terhadap tindakan masyarakat. Oleh karena itu teori dalam komunikasi politik mengalami perkembangan sesuai dengan penelitian dan penemuan para ahli terhadap tingkah laku khalayak.
Referensi
Cangara,Hafied.2009. KomunikasiPolitik: Konsep, teori, danStrategi. Jakarta: RajaGrafindoPersada.
Arifin,Anwar. 2003.KomunikasiPolitik. Jakarta: BalaiPustaka
[1]HafiedCangara, KomunikasiPolitik: Konsep, teori, danStrategi, (Jakarta: RajaGrafindoPersada, 2009), Hal: 119-120
[2]Anwar Arifin, KomunikasiPolitik, (Jakarta: BalaiPustaka, 2003), Hal: 43-45.
[3]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 120.
[4]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 46.
[5]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 121.
[6]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 54.
[7]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 122.
[8]HafiedCangara, Ibid.,Hal: 122-124.
[9]Anwar Arifin, Ibid.,Hlm: 61-63.
[10]Anwar Arifin, Ibid.,Hal: 57-59.
Langganan:
Postingan (Atom)